Jumat, 15 Desember 2017

Kencan

Kau masih tersenyum lembut di depanku memasang tatap andalan yang selalu membuatku kaku. Baru saja kau bercerita tentang kemacetan yang disertai teriakan lafal suci yang sering kau dengar di Masjid menjelang Sholat Magrib dan kini bisa mudah didengar setiap hari di jalan raya. Tuhan terasa lebih dekat dari biasanya, mungkin benar akan kiamat atau sebentar lagi hidup kita akan tamat. Aku hanya menelan ludah dan mulai mengingat kapan terakhir kali menyentuhkan jidat ke ujung sajadah.

Lampion. Nyala warna rapi yang menaungi kencan kami.
Astagfirullah...


Kau memotong lamunan dan melanjutkan perbincangan ke feed instagram milikmu yang sudah lapuk, kurang aesthetic, dan tone yang tidak folk sama sekali. Kau mengeluh berulang kali, aku diam karena kau cantik sekali. Gurat mukamu selalu mengombak imut di saat-saat seperti ini, telapak jemariku langsung merupa papan selancar untuk beraksi. Tiba-tiba kau berteriak, ah, gerak modusku langsung rusak. Ternyata internet membuatmu lebih dulu berselancar untuk mencari tahu tempat-tempat indah yang masih alami dan setiap sudutnya bisa membentuk keteduhan, syukur-syukur ada kabutnya, jadi kain pemberian kawan dari Flores itu bisa kau pakai untuk menyelimuti tubuh sambil bergaya. 
"Pokoknya nanti pas motret posisiku di tengah bawah ya, aku kecil aja yang penting kelihatan sendu terus editnya pakai VSCO A8, jangan lupa Lightroom dulu biar kepisah warnanya!"
"Iya, iya, belum juga dipotret udah bahas editan. Hmm."
"Ya intinya gitu! Hehehe. Jangan sampai aku kelihatan gendut, loh! Arahin yang bener..."
"...ssst! Adzan." aku memotong binar riangnya, dia tersenyum lalu bibir bawahnya dipanjangkan, manyun yang menggemaskan.
Kok langsung adzan ya, biasanya ada puji-pujian dulu. Padahal lafal suci sudah mudah ditemui di jalan raya harusnya kan semakin banyak disuarkan di Masjid Raya. Ah, apa sih aku ini. Suka ngaco memang otakku. Aku ini ibadah banyak bolongnya, suratan pendek itu-itu saja, khatam Quran baru sekali itu pun karena mau sunat, eh sok-sokan membahas hal rohani. Nanti ada yang marah lalu aku dirajam malah tidak jadi memotret perempuan cantik di depanku ini. Maafkan hamba! Ampun.

Merasa salah dengan pikiran barusan, aku mencoba memperbaiki. Langsung aku menuju Masjid dengan berjalan santai sembari menikmati semilir angin yang menerpa selangkangan dari kibasan sarung yang kubiarkan sedikit longgar. Adem. Enak. Cuma agak susah kalau sedang wudhu, harus ditekuk sampai pusar agar tidak kecipratan. Makanya aku wudhu lebih dulu di kafe agar kelak semriwing sarung yang tetap menjadi juara di senja kali ini. 

Sampai Masjid sang Muadzin sudah mengambil ancang-ancang untuk Qomat, kucepatkan langkah menata diri dalam shaf agar tidak tergesa nantinya. Sebelahku ada bapak tua tegap tubuhnya, berkaos hitam dengan celana jeans kumal; sambil mengusap akik di jari manis tangannya beliau melempar senyum ke setiap orang yang dilihatnya. Tak luput beliau pun tersenyum padaku sambil mengulurkan tangan sebagai gerbang pembuka untuk kami bersalaman. Perlahan didekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik:
"Itu yang biasa ngaji lagi masalah sama istrinya itu, Mas. Mau cerai mereka."
Apa ini kok tiba-tiba kesitu?! Aku bergumam dengan perasaan bingung.
"Kaget ya, Mas? Maaf loh, soalnya saya dari tadi dengar orang saling berbisik karena tidak ada ngaji menjelang Magrib seperti biasanya." 
"Iya, Pak, maaf juga kalau ekspresi saya aneh. Jujur saya kaget dan bingung bagaimana menanggapinya. hehehe."
"Oh, santai saja, Mas. Saya cuma mengabari saja barangkali mas juga merasa kehilangan suara ngaji itu. Sudah, sudah..."
Bapak itu menepuk pundak sebagai pemecah canggung juga mengingatkan Qomat sudah selesai dan Imam akan Takbirratul Ikhram. Tiga rakaat pun memerdekakan waktu, membasuh jiwa yang penat dan hati yang lusuh.
"Mas..."
"Eh, iya, Pak?"
Lagi-lagi beliau mengagetkanku, mungkin salah satu kecakapan hidup beliau adalah kelihaian meremas jantung.
"Duluan ya, Mas. Saya kesana dulu."
"I..iya, Pak."
Kami pun bersalaman sebagai pelepas perjumpaan.
"Hati-hati di jalan, Pak."
"Halah, santai, Mas. Wong cuma ke depan situ, kok."
"Loh, itu kan rumahnya..."
"...iya, Mas. Saya teman istrinya Bapak yang biasa ngaji itu. Jangan bingung-bingung lagi. hehehe."
Kulepas pelan tangan beliau yang menyalamiku, mengendap aku pergi dari Masjid, sandal terpasang di kaki, dan tiba-tiba entah kenapa aku berlari otomatis menuju kafe kembali. Sekejap rindu yang membuyarkan imaji. Ragaku lemas dihajar khawatir akan kehilangan seorang yang kucintai.

Sampai kafe dan kutatap matanya dari balik jendela sembari mengatur napas. Dia melihatku dan dengan tetap cantik berteriak padaku:
"Hai! Sok misterius sih ngintip gitu, hih! Sini sini sini, ih, tumben cepet. Ini aku udah nemu tempatnya loh, dijamin hits banget! Unch-unch pokoknya! besok kita kesana habis aku selesai ke Gereja ya..."
Dadaku sesak dan mengucap harap:
"Tuhan, atas nama rasa yang kau beri, bisakah sementara menjadi selamanya? Aku masih punya janji untuk memotretnya lagi..."




Purwokerto, 15 Desember 2017
Wira Nagara

31 komentar:

  1. First komen dapet folbek ya bang di ig @husinakbr_ dan twitter @husinakbr_

    BalasHapus
  2. Udah bolak balik blog ini mas. Akhirnya ada lagi yang baru. Mantap terus berkarya mas wira. Ditunggu buku selanjutnya. Banyak terwakilkan dari cerita cerita mas wira.

    BalasHapus
  3. Keresahan ku sama maswir. Buku kedua kapan? Hehe

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Selalu membuatku jatuh dengan tulisanmu, mz.

    BalasHapus
  6. sedikit lebih religi dari cerita2 sebelumnya

    BalasHapus
  7. 'Bisakah sementara menjadi selamanya?' Cuman 4 kata, tapi menyiratkan beribu makna. Apakah itu rumit yg berujung pamit, atau menjadi suatu jawaban yg menyejukkan?

    BalasHapus
  8. Love it, tak enteni karya selanjute, mas

    BalasHapus
  9. Terbaikkk๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  10. Luar angkasa..๐Ÿ‘๐Ÿ˜†

    BalasHapus
  11. akhirnya bisa baca tulisanmu lagi mas..

    BalasHapus
  12. apa ini? semacam orang yang takut mati karena sadar dirinya sendiri dan juga rindu yang masih malu

    BalasHapus
  13. ternyata ada pula yang memerlukannya, bumbu dari vsco dan lightroom yang semakin kekinian di dunia maya, hehehe..

    BalasHapus
  14. udah dapet warna baru ya mas, tapi ending-nya bakalan sama deh kayaknya

    BalasHapus
  15. Selalu sendu ceritamu , tetap berkarya mas wir.

    BalasHapus
  16. Ada rasa yg beda nih dari tulisan ini

    BalasHapus
  17. ndi kiye buku keloro e,,, ojo kesuwen ko... keburu nikah rika mengko ...

    BalasHapus
  18. Ah,akhir selalu meninggalkan Tanya sampai aku harus hidup direngkarnasi Yang kedua

    BalasHapus
  19. Aku tau pokok cerita mu bang, yg sabar yaa

    BalasHapus