Sabtu, 10 Juni 2017

Takjil

Sudah separuh bulan Ramadhan berlalu dan belum kutemui wajah manismu mengendap di cangkir kopiku. Tidak ada kemungkinan yang bisa kutakar dari kenangan. Hari berlalu sebagai kesibukan yang menyublim bersama udara untuk menyatu bersama namamu yang masih kuhirup di antara bianglala masa lalu. Berputar namun tak bergerak. Kau masih menjadi poros dari setiap langkahku yang mulai terbiasa menempuh perjalanan tanpa haluan. Sampai di suatu senja aku teringat seplastik es buah yang diikat karet merah muda sebagai menu buka puasa, dengan cinta yang kita nikmati dari sedotan yang sama.
Kopi malam ini, pahit yang selalu menemani.
Kubiarkan diriku memaku di hadapan jendela, menatap pola kopi yang tertinggal di bibir gelas, sembari menasbihkan tanya dalam pilu. 
Apa kabar, kamu? 


Di antara lampu kendaraan yang melintas dari balik jendela, aku teringat lingkar tangan kirimu yang memeluk pinggangku pada perburuan takjil senja itu. Tangan kananmu bergerak bebas. Mencubit lenganku, memukul pelan kepalaku dari belakang, juga menunjuk ke sudut-sudut jalan sambil kita berdebat kemana kita akan berhenti. Jujur, bersamamu yang kuinginkan hanyalah melaju. Kemana saja, asal telinga dan mataku berhias senyum dan tawamu. Lalu rengekanmu membuyarkan lamunan dan kita memutuskan untuk berbuka di pinggir jalan, sembari menghitung daun-daun gugur dan menikmati kepak sayap burung menghias surya yang tenggelam. Apakah takjil favoritmu masih risoles, kue lapis, dan es buah tanpa irisan roti? Yang dulu pernah kita nikmati, yang kini aku kenang sendiri.

Malam pun kembali menyembunyikan bintang, menandai kau sebagai pusat terang. Menyala di hatiku, hangat, mencairkan rindu yang lama membeku. Mengulang semua cerewetmu sehabis tarawih di kedai kopi tempat biasa kita bertemu. Membahas cabai yang kurang pedas di risolesmu, atau antrian di tukang es yang lebih panjang dari oktaf suaramu. Kau masih menyanyi, kan? Jangan berhenti, ya. Aku suka mendengar sayup nyanyianmu yang membuatku tetap terjaga saat kita membelah bising jalanan. 

Kemudian kau kembali mencubit lenganku berulang kali, memencet hidungku, dan menatap tajam kedua mataku untuk menyampaikan pesan jangan lagi terlambat menjemputmu saat sahur. Aku cuma bisa tertawa menanggapi ketusmu itu, lucu. Entahlah, aku selalu suka melihatmu cemberut. Kau jadi lebih lepas bercerita tentang banyak hal, diselipi tawa yang memenuhi ruangan, kau adalah ratu yang setiap tingkah lakunya selalu kuterima menetap di singgasana. Sebelum akhirnya aku tersadar pipimu yang menggembung saat cemberut itu kini sudah mendarat di telapak tangan yang baru. 

"Di sini, kembali,  
kau hadirkan ingatan 
yang seharusnya kulupakan, 
dan kuhancurkan adanya..."

Bersama lagu Rocket Rockers aku menulis kisah ini sebagai ucapan selamat atas rencana pernikahanmu yang tinggal menghitung hari. Terima kasih sudah memberiku ingatan Ramadhan terbaik di masa kuliah, dan semoga di peluknya kelak kau tetap bisa berbagi kisah. Karena cerewetmu itu yang membuatku betah menikmati waktu.
Semoga kekasihmu mampu memilihkan cabai yang tepat untuk mengunyah risoles favoritmu, sebab rasa pedas yang kau suka itu sudah lebih dulu menggores air mataku.

"Letih di sini, 
Ku ingin hilang ingatan..."


Ditulis dengan mendengarkan lagu Rocket Rockers - Ingin Hilang Ingatan berulang-ulang
Jakarta, 10 Juni 2017
Wira Nagara

85 komentar:

  1. Yang dulu pernah kita nikmati, yang kini aku kenang sendiri..
    Selalu mantap boskuhh

    BalasHapus
  2. Buku kedua buku kddua buku kedua buku kedua buku kedua buku kedua...

    BalasHapus
  3. Terima kasih bang Wira, diantara kesibukanmu menjalani syuting live acara sahur. Kau masih menyempatkan untuk berbagi dimensi tentang masa lalu. Membuat kami lebih mudah lagi menjelajahi lorong waktu. Memutar kembali kenangan yang terekam. Sungguh indah.

    BalasHapus
  4. Berkarya terus Mas Wiraa����

    BalasHapus
  5. Mas sehebat hebatnya kamu menulis cerita menggambarkan duka di berbagai akun sosial media, tetap hasilnya sama dia tetap bersama lelakinya.

    BalasHapus
  6. mantab, ditunggu karya selanjutnya 😄😄😄

    BalasHapus
  7. It's always be a masterpiece of you mas wira...

    BalasHapus
  8. Kenanganmu,kesedihan,menghanyutkan kami kedalam ingatan dulu yang engkau perankan bersama orang tersayang yang sudah melupakan

    BalasHapus
  9. Halus bang, sahur dengan rindu

    BalasHapus
  10. Terbwaek bosque, semangat berkarya semoga kau tak tenggelam dalam luka. Btw youtube nya update lg dong bosque

    BalasHapus
  11. Mantap jiwaa ������

    BalasHapus
  12. Terlintas keinginan tuk dapat hilang ingatan agar semua terlupakan~ *nyanyibang

    BalasHapus
  13. Walaupun bkn pengalaman, tp bisa buat ku jadi baper bang wir ��

    BalasHapus
  14. Walaupun bkn pengalaman, tp bisa buat ku jadi baper bang wir ��

    BalasHapus
  15. banggg, fix lu penulis indonesia terhebat kedua menurut gue, setelah Pak Cik Andrea Hirata.

    BalasHapus
  16. Bulan puasa gini boleh mewek kan mas wira...

    BalasHapus
  17. Jangan pernah nyakitin hati penulis kalau gamau kekal di dalamnya :"v

    BalasHapus
  18. tulisan yg selalu aku tunggu ,,,selalu dibawa untuk masuk lebih dalam ketika menikmati setiap tulisanMu Mass ,, aghhh rasanya betah sekalii berteman dgn masa lalu yg sungguh sayuu

    BalasHapus
  19. Keren abis kau bang . Kutunggu buku keduamu

    BalasHapus
  20. Meleleh mas... Ini padahal bahas risoles lho. 😂

    BalasHapus
  21. Rispek rispek risoles rispek 😂😂

    BalasHapus
  22. Sebuah cerita yang benar-benar membawa ku ikut menyaksikan waktu itu, semuanya seperti kaset yang berputar tanpa jeda, terlintas jelas walau di balik huruf-huruf yang abstrak, semuanya mudah untuk di mengerti, membuat ku ikut memeluk kenangan di masa itu, masa dimana keremajaan ku di renggut habis oleh keegoisan :'(, selamat menikmati patah hati paling bahagia mu bang

    BalasHapus
  23. saya mau ucapkan untuk mas selamat menunaikan ibadah puasa..!!!

    BalasHapus
  24. Aku padamu mas wir😂 ku tunggu tulisanmu selanjut nya. Sukses selalu

    BalasHapus
  25. rizpek dariku, kaum patah hati

    BalasHapus
  26. 👍👍👍

    BalasHapus
  27. Jadi ingat masa lalu :" hmmm

    BalasHapus
  28. sebab rasa pedas yang kau suka itu sudah lebih dulu menggores air mataku.

    BalasHapus
  29. Jadi makin betah patah hati

    BalasHapus
  30. Kau masih menjadi poros dari setiap langkahku yang mulai terbiasa menempuh perjalanan tanpa haluan.
    Ngenaaaa!!!😅😅

    BalasHapus
  31. Om, buku Distialisasi Alkena sudah beredar di Gramedia kah ?

    BalasHapus
  32. Entah kapan buku baru akan segera dirilis, selalu menyempatkan waktu untuk membaca tulisan-tulisan yang menjadi penyejuk hati.

    BalasHapus
  33. Kemantapan patahh hati yang HQQ ~

    BalasHapus
  34. buku baru, buku baru, buku baru, buku baru

    BalasHapus
  35. mantap djiwa bosque penikmat masa lalu~ 👌

    BalasHapus
  36. Mantab bosque. malam ini jadi baper deh

    BalasHapus
  37. sejujurnya selama ini saya cuma jadi silent reader..
    kecuali untuk yang satu ini, saya memutuskan untuk berkomentar..
    setelah sekian lama menunggu tulisan bang wira ga nongol2..

    BalasHapus
  38. Selalu menginspirasi saya tulisan tulisan nya bang wira

    BalasHapus
  39. bang wira baper . bangun sahur masih di bangunin alaram cieeeeee
    sama donk ane temenin semoga kita tidak berjodoh cieeee

    BalasHapus
  40. WEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEW WIR WEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEW...

    BalasHapus
  41. Mas wira, boleh minta pedasnya sedikit gak biar pedas cabai ku tak terlalu terasa lagi.

    BalasHapus
  42. mantab bang, sering sering ngepost yaa :D

    BalasHapus
  43. Tetap pada bahasan receh, dikemas melankolis tapi sadis. Seksi.

    BalasHapus
  44. Saya selalu jatuh cinta sama tulisan-tulisanmu.

    BalasHapus
  45. wah sangat puitis,, mantap mas.. posting lagi donk tulisannya yang mantap-mantap.!

    BalasHapus
  46. Kak,, buku lagi dong.

    BalasHapus
  47. favorit pokok e bang kabeh tulisan2 mu, salam soko boyolali ����

    BalasHapus
  48. favorit pokok e bang kabeh tulisan2 mu, salam soko boyolali ����

    BalasHapus
  49. ternyata membuat tulisan tentang perjalanan cinta apalagi yang benar benar telah kita lalui bukanlah satu hal yang mudah untuk dicurahkan dalam kertas dengan pena dan goresan tinta, bagian ketika mengenang suatu hubungan yang tidak mungkin baik baik saja adalah hal yang tersulit yang mungkin harus diingat dengan baik baik sehingga bayangan menyakitkan itu dating kembali mengucap salam dalam ingatan

    BalasHapus
  50. Ah selalu patah hati, berbahagialah mereka yang merasakannya

    BalasHapus
  51. "Jujur, bersamamu yang kuinginkan hanyalah melaju. Kemana saja, asal telinga dan mataku berhias senyum dan tawamu."

    #melemah

    BalasHapus
  52. Pergilah bersamanya disana dengan dia yg ada segalanya.

    BalasHapus
  53. cuma disini. kekecewaan bisa kita tertawakan. makasih loh mas, aku bermakmum padamu.

    BalasHapus
  54. Ahhhhhh ikut berdukaaaaa, mbak mantannnnnn batalin aja nikahnyaaaaaaaa

    BalasHapus
  55. Terlihat kau sanggat terjebak dengan luka dan masa lalu

    Namun yang ku lihat
    Kau satu-satu nya yang telah bangkit di sini. 😏

    Membiarkan orang lain menikmati sakit dan jatuh nya.

    BalasHapus
  56. Terlihat kau sanggat terjebak dengan luka dan masa lalu

    Namun yang ku lihat
    Kau satu-satu nya yang telah bangkit di sini. 😏

    Membiarkan orang lain menikmati sakit dan jatuh nya.

    BalasHapus
  57. ooowwwwhhh, ini tulisan yg di tunngu buat di tuang ke dalam buku baru

    BalasHapus
  58. wah sue ora update
    pembaca menunggu update'an baru

    BalasHapus