Sabtu, 10 Juni 2017

Takjil

Sudah separuh bulan Ramadhan berlalu dan belum kutemui wajah manismu mengendap di cangkir kopiku. Tidak ada kemungkinan yang bisa kutakar dari kenangan. Hari berlalu sebagai kesibukan yang menyublim bersama udara untuk menyatu bersama namamu yang masih kuhirup di antara bianglala masa lalu. Berputar namun tak bergerak. Kau masih menjadi poros dari setiap langkahku yang mulai terbiasa menempuh perjalanan tanpa haluan. Sampai di suatu senja aku teringat seplastik es buah yang diikat karet merah muda sebagai menu buka puasa, dengan cinta yang kita nikmati dari sedotan yang sama.
Kopi malam ini, pahit yang selalu menemani.
Kubiarkan diriku memaku di hadapan jendela, menatap pola kopi yang tertinggal di bibir gelas, sembari menasbihkan tanya dalam pilu. 
Apa kabar, kamu?