Minggu, 30 April 2017

Transit

Bila kau sedang dekat dengan seseorang, menjadi yang pertama dikabari saat dia sedang ada masalah, menjadi saksi berbagai prestasi yang tak henti dia ceritakan, atau menjadi kawan penghabis waktu dari senja hingga ufuk rindu, maka ketahuilah bahwa hatimu sedang berada dalam bahaya. Lewat tulisan ini aku hadir bukan untuk menyelamatkanmu, melainkan membawa kesadaranmu menyelami luka lebih dalam. Sebab kedekatan sering kali mematikan nalar, membius lewat kenyamanan, membunuh lewat pujian. Ketahuilah, sekali pun dia tak pernah menginginkanmu. Dia hanya benci sendiri, keangkuhannya butuh ditemani, dan hatinya butuh disanjung atas berbagai kisah perih yang pernah dia lewati.
Senja menjemput malam, hati menjemput kelam.
Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan?


Mari kita telaah lebih jauh. Suatu hubungan indah bila yang terjadi adalah saling, bukan sekedar yang paling. Kau dan dia sadar untuk menjalani peran dengan aktif dan partisipatif. Setiap cerita, kejadian, gagasan, mimpi, pencapaian, hingga lelah seharian, kau dan dia bergantian mengisi kesepian. Saat menangis, tertampunglah air mata. Begitu pula saat bahagia, terbagi dengan bijaksana. Tidak ada yang berlebihan. Semua terbagi secara optimal tanpa mengerdilkan potensi hangatnya kebersamaan. 

Lalu bila kau ketahui tidak pernah ada kesempatan sama saat kau dan dia duduk di satu meja, sudah sepantasnya kau bunyikan sirine tanda bahaya. Berjam-jam kau dengarkan keluh kesahnya, menanggapi hal-hal asing yang sebenarnya kau tak begitu peduli, membawanya ke tempat-tempat menenangkan, memberi rasa aman, menyiapkan jaket saat dia kedinginan, antar jemput kostan tepat waktu, hingga melewatkan pertemuan besar hanya untuk dia seorang. Iya, untuk dia yang bahkan sekali saja kau mencoba membuka topik tentang dirimu dia langsung mengalihkan ke pembahasan lain! Gila, sengeri inikah kau mendamba hati yang belum tentu bisa kau miliki?

Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan?

Begini, tahan dulu emosi. Coba buka rentetan chatting-mu dengannya, baca. Siapa yang paling meledak-ledak saat menceritakan sesuatu? Berapa alinea perbandingan saat ada pembahasan? Siapa yang paling berdebar menunggu balasan hingga jeda bernapas saja jadi sebuah masalah? Dan siapa yang paling terpukul kala setiap pesan berganti tak pernah ditanggapi? Lihat baik-baik. Bila ada yang terlihat paling dominan, maka ada yang harus dilakukan. Ah, begini saja. Siapa yang meminta waktu lebih? Yang tak mau tahu urusan orang, pokoknya detik itu juga tidak boleh ada yang lebih penting dari dirinya. Siapa? Ayo, coba, siapa? Begitu ponsel berdering harus segera diangkat dan tidak boleh ada suara lain selain yang menelpon tersebut. Kau tahu itu siapa, kau tahu semua itu kenapa, kau tetap bertahan? Ya, kau sering menyebutnya cinta.

Saat kau dibutuhkan kau harus segera datang, ketika kau butuh pertolongan pesanmu seakan menghilang. Tidak lama kemudian kau temukan pesan berhias maaf dan ajakan ketemuan, atau minimal diminta menemani makan. Lagi-lagi kau harus mendengar ceritanya dan dengan dalih tak enak hati kau tetap setia untuknya. Saking seringnya kau ada untuknya sehari tak direpotkan seperti ada yang kurang. Kau mulai menanyakan kabarnya, dia tanggapi dengan menanyakan posisi, kau sudah siap berangkat, lalu dia menghilang lagi. Ini yang paling menyita logika berpikirku. Kenapa bisa ada seseorang yang mengajak bertemu, begitu sudah siap untuk ditemui, tiba-tiba dia tidak bisa dihubungi? Itu kenapa? Kok ada sih orang-orang yang memainkan khawatir sebegitu hebatnya?

Ambil kendaraanmu segera, terutama yang sering kau gunakan untuk mengantar jemput raganya. Telusuri semua tempat di kotamu. Lihat, di situ, iya, di kedai kopi, warung makan, cafe hits, angkringan, burjo, kantin kampus, tempat-tempat yang pernah kau sangka akan menjadi gerbang terbukanya hatinya untukmu itu hanya sekedar saksi bisu. Apa? Suap-suapan? Saling sentuh hidung? Cubit pipi? Membaca garis tangan masing-masing? Saling menatap lama sambil tersenyum? Senggol-senggol manja? Itu hanya ada di sekitarmu. Sudahlah. Dia hanya benci sendiri, bukan ingin dilengkapi.

Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan?

Bagaimana? Nikmat bukan rasanya bertahan dalam kesakitan? Mantap betul. Hebat loh itu hatimu bisa bertahan begitu lama menyaksikan tumbuh kembang sakitnya. Tunas muncul, bunga semerbak harum, matang buah sedap nan ranum. Kau yang merawatnya, menyirami setiap hari tanpa mengeluh, memupuk dengan sabar, membanggakan ke setiap orang, kau unggah di instastories, kau kicaukan di twitter, kau jadikan kebanggaan di Path, hingga tiba waktu panen, kau memetiknya namun bukan kau yang merasakan manisnya.

Dia tidak mencintaimu. Dia hanya sedang kesepian dan kebetulan ada kamu.
Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan.


---


Ditulis untuk merangkul kaum "curhatnya sama siapa, jadiannya sama siapa". Tetaplah kuat dan saling menguatkan, sedihmu jangan ragu untuk dibagi, sebab patah hatimu tak pernah sendiri.

Peluk erat, dekap mesra.
Wira Nagara.



84 komentar:

  1. Aku selalu membaca tulisan di wira nagara. Id dan selalu menunggu kapan tulisan baru akan muncul. Dan transit adalah kisah juga pernah aku alami pas seperti tulisanmu. Patah hati terhebat yg membuat hati berkarat.

    BalasHapus
  2. Aku adalah payung
    Tapi tak selamanya hari akan hujan ��

    BalasHapus
  3. Terimakasih bang kau telah memberikanku jawaban yang sebenarnya belum aku tanyakan.. terimakasih Wiranagara.. ku tunggu Buku Jambu Biji nya agar segera rilis

    BalasHapus
  4. Was Was jugaa yaa mas wir ,,, grenjel grenjel kepriwe loh !!! Hahahja

    BalasHapus
  5. Yagitu.. ngebantu buat move on eh jadiannya sama yang lain. Ahahaha~~

    BalasHapus
  6. Sesuai dengan apa yg silvia rasa selama ini. Terimakasih bang @wira_ . Ditunggu di banjarmasin. Kota kecil dengan sejuta kenangan indah...

    BalasHapus
  7. Terimakasih penambah lara pendamba seseorang di masalalu . Ditolak oleh universitas dambaan pula :D. Lanjutkan bang !

    BalasHapus
  8. curhatnya sama siapa jadiannya sama siapa๐Ÿ˜ฅ

    BalasHapus
  9. Bang Wira, cepet nerbitin buku lagi ya? :*

    BalasHapus
  10. Tiap baca tulisan lu bang, itu antara sedih campur nyesek sama pengen ngetawain diri sendiri๐Ÿ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Komentar terbaik sih ini ๐Ÿ˜‚

      Hapus
    3. Komentar terbaik sih ini ๐Ÿ˜‚

      Hapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  12. kok kaya kesindir yaaa? he he he

    BalasHapus
  13. sebab patah hatimu tak pernah sendiri.

    Peluk erat, dekap mesra.
    Lanjutkan terus bang wiraaaaaa.......^^

    BalasHapus
  14. sebab patah hatimu tak pernah sendiri.

    Peluk erat, dekap mesra.
    Lanjutkan terus bang wiraaaaaa.......^^

    BalasHapus
  15. terimakasih untuk tulisanmu ..
    menyadarkanku.. dia hanya tak bisa sendiri. dan celakanya aku hadir di harinya .
    kau benar bang, setelah semua yang ia lakukan.

    dia hanya sedang kesepian dan kebetulan ada aku .

    sekarang aku sadar untuk jauh darinya lebih cepat, dari pada terlambat .
    aku sadar untuk pergi darinya, dari pada harus tersakiti oleh curhatannya


    terimakasih bang wira
    tetap menunggu tulisan di sini, tetap menunggu uploadan ig mu, tetap menunggu post instastories mu, tetap menunggu live mu untuk bisa berbagi lara ..

    dan terpenting tetap menunggu buku baru mu bang

    salam rizpek !!!

    BalasHapus
  16. Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan.
    Huffttt :(((

    BalasHapus
  17. Pernah ngerasain rasa sakitnya diginiin. Setelah baca tulisan ini, semakin sadar kalau aku memang bner2 diginiin wkwkwk

    BalasHapus
  18. ya , lebih tepatnya sebuah betadine.
    yang dibutuhkan kala luka menimpanya

    BalasHapus
  19. saya betelguse,tapi di sana ada sirius.
    saya payung,tapi di langit terik menggantung.
    saya puncak,tapi dia lebih suka debur ombak.
    terimakasih tulisannya mas wira,sangat luar biasa,ternyata saya tidak pernah begitu terluka sendirian.

    BalasHapus
  20. Terima kasih telah berbagi lara bosque :')

    BalasHapus
  21. Jadi sudah sampai pada tahap menyadarkan?
    Saya belum, masih amatir atas biasnya kenyamanan. Monggo intip dan koreksi caraku merayakan patah hati mas Wir; sukamendayu.blogspot.com (Sebuah Nama Dalam Tulisan)

    BalasHapus
  22. Hadeeeehh koe panceeeeennn..... duh angel ngomonge mas !!! ๐Ÿ˜ข

    BalasHapus
  23. Luar biasa! Universal story, rakyat Indonesia masih banyak kaum patah hati, lanjutkan karyamu mas e

    BalasHapus
  24. sudahlahh dia hanya benci sendirii :')

    BalasHapus
  25. Itu yang ku alami, mungkin dia hanya lagi kesepian, atau mungkin akunya yang keburu baper :(

    BalasHapus
  26. Jadi yang kisah cintanya seperti ini harus bagaimana mas wir?

    BalasHapus
  27. Kamu memang terbaik mas :))

    BalasHapus
  28. "Suatu hubungan indah bila yang terjadi adalah saling......"
    .
    .
    .
    .
    Sangat ngat ngat ngat ngat tepat sekali...


    Tetaplah kuat dan saling menguatkan, sedihmu jangan ragu untuk dibagi, sebab patah hatimu tak pernah sendiri.

    BalasHapus
  29. Aku mengalami nya. Dan ini sudah berlangsung lama :"

    BalasHapus
  30. F*CK YOU, WIRANAGARA!!! F*CK YOUUUUUU

    BalasHapus
  31. Ini yng saya rasakan mas Wira,saya hanya menjembatani dia untuk mencapai apa yang dia gapai

    BalasHapus
  32. salam patah hati untuk yang merayakannya..!!! wkwkwkw

    BalasHapus
  33. Gila gila, kenapa pas banget ya sama gue, mas? Btw, manusia kek gitu pada akhirnya bakal pergi pelan-pelan, kemudian hilang. Dan bisa dipastikan dia punya "mangsa" baru lagi. Untuk dijadikan seperti kayak gua. Salam kekecewaan....

    BalasHapus
  34. Pas baca tulisan ini, aku lagi nggak galau. Tapi begitu pas selesai baca, Mata ini malah menjadi berkaca-kaca..

    BalasHapus
  35. Nyentuh bgt kata2 nya bang, jadi flashback tapi yaudalah ��

    BalasHapus
  36. Ngena bang, ditungguin tulisannya lagi bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disini rupanya ��

      Hapus
  37. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  38. Membaca suatu karangan dari anda adalah suatu kebanggan, karna saya termasuk kaum patah hati

    BalasHapus
  39. kalo cuman sebatas chatingan gimana bang ?

    BalasHapus
  40. Ku tunggu tulisan sadismu lagi bang... buruan diupdate

    BalasHapus
  41. Berbahagialah kalian yg pernah merasakan seperti ini..
    Dibalik kisah yg mengharukan seperti ini...
    Kalian adalah orang yg bermanfaat bagi orang lain..
    Ingatlah pasti akan ada saatnya kalian menemukan jodoh yg telah ditetapkan saat kalian belom ada didunia ini..
    Dan sebaik-baiknya sebuah janji adalah janji sang pemilik semesta ini..

    BalasHapus
  42. Dari awal pikiran gw emg udah gak bener.. makasih bang udah berkat tulisan lu gw terbangun haha.
    Dan ending nya dia gua angkat kelangit begitu tinggi ya langsung gw lempar haha biar mikir dia bang

    BalasHapus
  43. Keren nih sajak nyaa. Mampir ya bang di blog guaa resahgaksih.blogspot.co.id

    BalasHapus
  44. Keren nih sajak nyaa. Mampir ya bang di blog guaa resahgaksih.blogspot.co.id

    BalasHapus
  45. Ya Allah :')
    im feeling like a fool

    BalasHapus
  46. Sama seperti pengalaman saya. Perih yang dimulai 2014.

    BalasHapus
  47. Aku harusnya bilang apa, saat tulisan mu mewakili apa yang ingin aku ungkapkan padanya, terkadang seseorang suka sekali memainkan khawatir, disaat terjatuh kita selalu berjuang untuk membuatnya terbangun dan berjalan kembali, tapi saat kita yang terjauh sekalipun dia tak pernah menenguk kebelakang hanya untuk bertanya kenapa kau bisa terjatuh :'(, kaum patah hati selamat merayakan duka mu yang sejati

    BalasHapus
  48. Bersatulah kaum patah hati

    BalasHapus
  49. Mas mengapa selalu ada dia di saat cinta tak terbalas sapa, mengapa hanya iya disaat tanya chanting ku menghampirinya, apakah itu termasuk rasa yang telah mas wira jabarkan ini?

    BalasHapus
  50. Ka wira memang keren dalam menulis. Lanjutkan menulisnya ka. I always waiting for you...

    BalasHapus
  51. Selalu ada kisah di balik kasih yang tak tergapai :')

    BalasHapus
  52. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  53. Transit dan distilasi alkena supersuper
    Karan dari tulisan2 bg wira ini aku jadi berani nulis.
    Dan transit ini yg buat aku bisa nulis postingan pertamaku.
    You are my inspiration bang

    BalasHapus
  54. aku selalu menyempatkan waktuku utk membaca tulisan2mu bang, tolong jgn berhenti disini.

    BalasHapus
  55. Bang wira nagara, terimakasih lewat tulisanmu kini aku sadar, akan sulitnya menahan luka

    BalasHapus
  56. "membawa kesadaranmu menyelami luka lebih dalam" ,sakit dekk ๐Ÿ˜‚

    BalasHapus