Sabtu, 04 Maret 2017

Seharusnya Kita Bertemu di Stasiun Tugu Sore Itu

Atas nama hati yang dengan mudahnya kau curi sejak pertama kali pesanmu masuk di akun Instagram-ku, aku masih bisa melihat namamu berlarian di tangkai penasaran. Lebih lekat dari sekedar pertemuan, bibirku ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Terutama hebatnya kau melambungkan langit di atap duka dan menjadikannya hujan tanpa melewati mendung yang seharusnya ada. Bila pematah hati adalah sebuah pekerjaan, aku adalah deadline yang paling mudah kau selesaikan. Dan kau resmi menjadi pematah hati paling profesional.

Ketiadaan di tempat yang kau janjikan.


Sosok sepertimu tidak akan pernah mau peduli akan hati yang terlalu lama sendiri. Hati yang mudah tergoda paras dengan paket spesial senyum manis tatap sayu. Hati yang mudah gembur oleh berjuta keriangan yang kau titipkan lewat rintik hujan, menyatu sempurna dengan degub jantung yang kehilangan irama. Kau tidak sadar, nadiku telah bergetar. Hingga aku lupa satu hal bahwa hari ini semua yang terlihat sering tidak sesuai ekspektasi.

Untuk orang-orang yang terbiasa melihat dunia lewat kaki-kakinya yang mengecup tanah dari pagi datang hingga senja enggan hilang, perkenalan di sosial media adalah bianglala dengan poros putar yang mengambang. Ia terlihat nyata padahal di belakang itu semua ribuan maksud tersimpan hingga cerah mentari pun sulit menguraikan. Apa yang terbilang iya belum tentu iya, begitu pun sebaliknya. Kita terjebak kebingungan yang justru semakin membuat kita ketagihan. Seolah-olah kita mampu memecahkan teka-teki, lalu kita lupa bahwa dunia maya selalu punya topeng tersembunyi.

Aku berkata demikian karena pernah kutemui muda-mudi yang dengan romantis menuliskan 'Terima kasih sudah menampung lelahku, wahai tempat pulang. Five years and still counting...' pada caption instagram-nya di bawah foto berdua. Tetapi saat bertemu mereka malah lebih fokus melihat layar daripada saling berbagi kabar. Jadi apanya yang mau di-counting? Waktu menuju putusnya?

Namun di kesempatan lain kutemui muda-mudi yang begitu heboh membicarakan apa saja. Mereka saling menatap dan mendengarkan dengan sesekali sang perempuan memasang ekspresi manja yang langsung ditanggapi gagah oleh lelakinya. Manis sekali. Kulacak akun maya kedua orang itu dengan bertanya ke orang-orang di sekitarku, dan ternyata mereka tidak pernah sekali pun memamerkan hubungan mereka di media sosial! Hebat. Mereka benar-benar menikmati cinta berdua. Tanpa 'unch unch maaci ayang', tanpa lilin-lilin anniversary yang tersusun rapi membentuk hati di setiap bulan, juga tanpa balon emas berbentuk huruf yang tertempel di dinding kamar hotel mahal dengan taburan kelopak mawar di ranjang.

Sayangnya kita sulit sejernih itu saat jatuh cinta. Ada banyak permaafaan yang mengurung nalar, kita sudah lebih dulu terbuai oleh kisah kasih fana yang memenuhi kepala. Seperti sapaan di pesan masuk Instagram dari perempuan yang membuatku berpikir dia benar-benar akan menemuiku di stasiun Tugu sore itu. Hati hanya bisa menyangka, waktu yang menentukan luka. Tepat saat langkahku memeluk jalanan Jogja, tidak satu pun kata keluar dari ketikan jemarinya. Kotak masuk ponselku diam dan tiap deringnya seakan puasa. 

Sosok sepertimu tidak akan pernah mau peduli akan hati yang terlalu lama sendiri. Hati yang tumbuh oleh mendung yang menjadikannya mampu mengelola kecewa. Hati yang terlampau subur untuk sekedar kau ganggu lewat jejak kecil yang tak seberapa. Kau mungkin lupa, situasi yang menyakitkan mampu berubah lewat kata-kata. Hingga nantinya kau berganti menerka kemungkinan dari kenyataan setelah berpijarnya rindu dalam terbit kehilangan.

Kopiku habis, namun kepalaku semakin penuh tentangmu...

-----

Ditulis di Blanco Coffee, kedai kopi yang seharusnya menjadi saksi pertemuan kita setelah kau menemuiku di stasiun Tugu sore itu. Benar katamu, kopinya enak, yang pahit hanya ketiadaan maafmu setelah manis yang menguap tanpa temu...

-----



Jogja, 4 Maret 2017
Wira Nagara

32 komentar:

  1. Sayangnya kita sulit sejernih itu saat jatuh cinta..
    Mantap bosque👍

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Ketika mendung semakin kuat berimajinasi untuk menutup sinarnya Mentari, maka pengharapan adalah jalan keluarnya.

    BalasHapus
  4. Kopiku habis, namun kepalaku semakin penuh tentangmu~

    BalasHapus
  5. kopinya enak, yang pahit hanya ketiadaan maafmu setelah manis yang menguap tanpa temu... ooooh oh oooooh

    BalasHapus
  6. Semoga lekas patah hati, lagi

    BalasHapus
  7. Hati yang mudah tergoda paras dengan paket spesial senyum manis tatap sayu~

    BalasHapus
  8. Bang rekomendasi film patah hatinya dong

    BalasHapus
  9. ada yang lebih miris dari patah..adalah harus mati sekejap setelah benih bahkan baru di rasakan tumbuh..karena ada laki laki yg menurutnya lebih

    BalasHapus
  10. Aku penggemar baru tulisanmu.
    Lanjutkan!

    BalasHapus
  11. mampir blog saya boleh? www.suaragema.id

    BalasHapus
  12. cieeee tampil di blogger juga...!!!

    BalasHapus
  13. Mungkin di lain waktu mata kalian akan saling menatap lagi..
    ditunggu sajak terindah selanjutnya bosque

    BalasHapus
  14. Bossku Hebatt..
    Seorang imam patah hati,
    Kelak kau akan jadi sejarah tentang hebatnya kau menertawai patah hati

    Bossku ..

    BalasHapus
  15. Tunggu dia pada tempat yang sudah dijanjikan.

    BalasHapus
  16. Kapan mampir ke UNS lagi ?

    BalasHapus
  17. Selalu suka sama gaya penulisan nya wiranagara

    BalasHapus
  18. masih berpikir mengapa cinta yang tiada kunjung bahagia lebih sempurna dirasa saat dibaca daripada sebaliknya

    BalasHapus
  19. Gilakk tulisan macam apa inii.
    Gak sangguppp
    Awesome

    BalasHapus
  20. "Sosok sepertimu tidak akan mau peduli akan hati yang terlalu lama sendiri.Hati yang mudah tergoda paras dengan paket spesial senyum manis tatap sayu."
    Ngena banget gan :')

    BalasHapus
  21. Sejak terluka oleh cinta, aku jadi sering melihat tulisanmu bang

    BalasHapus