Kamis, 23 Februari 2017

Ethyphenol Floem

Kalau saja waktu itu namaku tidak tercantum dalam daftar hadir pesta perayaan tukar cincinmu, mungkin saat ini aku masih berjuang untuk menyelamatkan hidupmu dari status lajang. Sayangnya, berkali-kali aku mengusap mata dan melipat-lipat undangan, pernikahanmu tetap dilaksanakan. Mau tidak mau aku harus menerima kenyataan bahwa ketulusan bisa kalah oleh kemampuan finansial, rasa cinta bisa takluk oleh kesempatan dan kematangan usia, setidaknya saat itu kenyataan berkata demikian. Ya, mau bagaimana lagi. Aku bukan Ko-Ching Teng yang dengan gagah berani datang ke pernikahan Shen Cia-Yi lalu mencium mempelai pria agar bisa mencium perempuan idaman. Ciuman yang membuat hening seisi ruangan. Ciuman yang menginspirasi untuk berbuat hal yang sama bila suatu hari orang yang dicinta tidak menikah dengan dirinya. 

You Are the Apple of My Eye (2011) - Kisah cinta Ko-Ching Teng dan Shen Cia-Yi, film idola kaum patah hati.
Sedih.



Kursi pelaminan hari itu hanya mampu kulihat dari rentetan unggahan di Path dan Instagram, dengan senyum serta keramaiannya masih jelas kuingat sampai sekarang. Tepat setelahnya hari-hariku berisi sumpah serapah mengutuk diri sendiri atas ketidakberdayaan menaklukan hati. Kata-kata mulai kuajak berdiskusi untuk membentuk alinea, menjelajahi kecewa untuk merubahnya menjadi paragraf penuh lara. Dua tahun setelahnya 'Distilasi Alkena' lahir ke dunia. Sekumpulan kisah yang terbentuk dari air mata itu sudah bisa kau peluk untuk merayakan duka lewat Gramedia di seluruh Indonesia. Begitulah akhirnya patah hati membawa langkahku ke berbagai hal ajaib hingga detik ini. Namun, buku itu juga membawa kebingungan baru di hidupku.

Kenapa?

Ya, aku tidak pernah menyangka buku itu cukup diterima bahkan masuk ke nominasi tahap dua buku non fiksi terfavorit Anugerah Pembaca Indonesia 2016 yang diselenggarakan Goodreads Indonesia. Gila. Itu isinya curhat loh, bukan suatu hal yang mampu menyelamatkan dirimu dari jerat ekonomi dan gengsi duniawi. Kabar terbaru dari penerbit mengatakan bahwa Distilasi Alkena yang tersebar hari ini adalah cetakan ke delapan. Pantas saja semakin hari ada saja yang menagih kisah selanjutnya. Ekspektasi meningkat, beban kian kuat, aku semakin terjerat. Kata-kata itu harus aku lanjutkan namun ide baru belum juga kudapatkan. Jujur, hatiku sudah tidak sepatah saat itu. Berkali-kali aku mencoba menuliskan rasa namun tidak pernah ada keyakinan untuk melanjutkannya. Entah waktu telah menyembuhkan atau luka telah aku ikhlaskan, yang jelas hidupku kini dipenuhi kebingungan.  Hingga akhirnya terlintas keinginan untuk jalan-jalan, mencari inspirasi, memapah sisa duri yang menancap di hati.

Pergi.

Suasana di Seniman Coffee, Ubud, Bali.
Ini saatnya menghidupi mimpi. Membawa langkah pada perjalanan yang selalu mengantarkan pengalaman dan pelajaran, membuat sadar bahwa semua yang kita raih hanyalah seonggok kerdil di mata semesta. Itu yang selama ini aku dapatkan saat berkunjung ke setiap kedai kopi di sudut kota. Perbincangan indah di setiap meja selalu menawarkan pemandangan menyenangkan. Aroma kopinya bercampur mesra dengan riuh tawa juga kelam haru yang memenuhi ruangan. Indah sekali. Membuatku betah berlama-lama memerhatikan dan membayangkan berbagai kemungkinan. 

Tiba-tiba muncul perempuan cantik sedang mengikat rambutnya di sebelahku, mata kita langsung saling menatap, jantung kita saling berdegub, senyum kita saling menyapa, dan pohon bicara mulai tumbuh di antara kita. Topik menarik berbuah tanpa kenal musim, tangan kita saling bertukar genggam, mengakar dalam kenyamanan yang memupuk subur janji-janji yang mulai bersemi. Sayangnya kemarau sering berkunjung dengan kurang ajar. Cinta pun layu sebelum berkembang, rindu itu mati sebelum muncul spasi, dan daya khayalku tidak pernah diimbangi dengan kenyataan pasti.

Mana?

Sejauh ini yang bisa kubanggakan hanya khayalan. Kalaupun aku berbincang dengan perempuan di kedai kopi, tidak lama kemudian pasti terhenti saat seorang lelaki datang menemui. Ya, rata-rata semua yang membuat hatiku berminat statusnya sudah terikat. Hatiku stasiun, tempat pertemuan dan perpisahan membekas dengan luka sebagai satu-satunya kereta yang melintas. Kau mengingatku saat kesedihan datang,  lalu kau tinggalkanku saat senyummu kembali terang. Belum lagi ucap manjamu saat kegalauan melanda. Kau buat ponselku ramai oleh curahan duka, derai air mata, dan kalimat kangen yang begitu menggoda. Begitu kutanya kapan bisa bertemu, kau berkelit dengan alasan lelakimu. Lagi-lagi kalau sudah begini aku bisa apa. Tanpa henti kau hujaniku dengan perasaan hampa.

Kejam.

Aku ingin berhenti kauhadiahi sakit hati. Terlalu banyak kejutan menungguku di depan,  semua tentangmu harus kuhentikan. Setelah badai haru tiga tahun lalu kuakui aku terlalu takut memulai hubungan, terutama pesona perempuan yang dekat denganku harus punya pesona luar biasa, indah dipandang juga syahdu diajak berbincang. Kenyataannya perempuan semacam itu kalau bukan terbelenggu masa lalu ya pasti sudah memiliki kekasih, apa lagi? Mau sedekat apapun lambat laun kita pasti tersisih. Memangnya ada hati yang mampu adil berbagi kasih?

Sudah.

CUKUP.

Kini saatnya berkemas, memeras duka hanguskan ampas, dan berjalan menemui hal-hal baru yang berkilau emas. Mengakrabkan diri dengan rasa syukur, menghirup lebih banyak terbit sang surya, memeluk lebih erat temaram senja. Memenggal gengsi, melihat dunia dari lebih banyak sisi, membuka diri siapa tahu ada sosok yang berpotensi.

Senja di Seminyak, Bali.
Tegapkan langkah dan percaya. Walau senja belum sanggup membawa kehadiranmu, paling tidak hatiku berhenti tenggelam di masa lalu...



Bali, 18 Februari 2017
Wira Nagara 



47 komentar:

  1. Setelah lama menunggu tulisan di blog ini,keren bosque~

    BalasHapus
  2. Ah salah baca ini ��
    Berasa kesindir, berasa jadi perempuannya ����

    BalasHapus
  3. "Begitu kutanya kapan bisa bertemu, kau berkelit dengan alasan..." this!1!1

    BalasHapus
  4. Idolaku❤❤
    ditunggu mas buat tulisan-tulisan lainnya~

    BalasHapus
  5. Sudah lama aku menanti goresan kata diblogmu mas

    BalasHapus
  6. Terbaik akang. Ditunggu tulisan selanjutnya 💕💕

    BalasHapus
  7. Nasri Vamprockerz23 Februari 2017 21.44

    Mantap bosque.

    BalasHapus
  8. Betapa beruntungnya wanita yang dinikahi mas wira nanti.

    BalasHapus
  9. Kau mengingatku saat kesedihan datang, lalu kau tinggalkanku saat senyummu kembali terang.

    Mantap bosquee

    BalasHapus
  10. Wuanjiiiir, greget tenan mas..

    BalasHapus
  11. Atas luka yg tak berkesudahan tulisanmu menyayatku perlahan bosque

    BalasHapus
  12. Bagus mas Wira di tunggu karya terus

    BalasHapus
  13. Ketika mengesampingkan Cinta demi Harta, istimewa mase di tunggu karya2 selanjutnya mas

    BalasHapus
  14. Duh rasanya hati ini berderai airmata mas, di tunggu buku keduanya

    BalasHapus
  15. Massss wiraaaaa, kapqn bertemu menuntaskan rindu kembali ke madiun?😥

    BalasHapus
  16. Ditemani segarnya nikmat pagi tak senikmat kalo tdk ada kopi pagi disebelahnya sambil menikmati dan menatap sebuah huruf huruf tersusun rapih dan penggalan kata kata indah yg terdapat disebuah blog mas wira...

    BalasHapus
  17. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  18. Mngkin kepergian telah diikhlaskn, dan luka telah tersembukan oleh mahasiswi kedokteran hihihi

    BalasHapus
  19. Mngkin kepergian telah diikhlaskn, dan luka telah tersembukan oleh mahasiswi kedokteran hihihi

    BalasHapus
  20. Menusuk hati menghujam jiwa. Keep spirit buat nulis

    BalasHapus
  21. Mas Wira idola di hati yang patah :)

    BalasHapus
  22. "Ya, rata-rata semua yang membuat hatiku berminat statusnya sudah terikat"

    kok bisa pas ya kang wira, hehehehe

    BalasHapus
  23. Rasanya hati ini seperti digerus oleh ketikan mu Bosque, dan sekumpulan hati yg patah berkumpul d kotak komentar XD

    BalasHapus
  24. Suka bangeeettt sama rangkaian katanya. Hatiku menikmati kata kata yg kau rangkai mass ^^

    BalasHapus
  25. Ada cinta di setiap kata-kata yg kmu rangkai mas. Tentunya kmu tau kan bahwa cinta tak hanya menyuguhkan bahagia tp juga hati yg patah ^^

    BalasHapus
  26. mantap Bosque..
    kapan buku keduanya bisa aku peluk???

    BalasHapus
  27. Ditunggu lanjutan Distilasi Alkenanya mas! :)

    BalasHapus
  28. Ora umum .....celes ka.....☺

    BalasHapus
  29. aku salah satu penikmat tulisanmu mas wir, ntah kenapa setiap aku baca isinya hampir terjadi sama dg yg aku alami��, dri gagal bercinta sampai patah hati yg paling mengerikan ditinggal nikah..
    sukses terus mas wir������������

    BalasHapus
  30. Suka diksinya. Melebarkan imajinasi berpikir. Lnjuut trus mas Wiro 👍👍

    BalasHapus
  31. Hatiku bagai stasiun dan sakit hati satu-satu nya kereta yang lewat..

    BalasHapus
  32. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus