Sabtu, 10 Juni 2017

Takjil

Sudah separuh bulan Ramadhan berlalu dan belum kutemui wajah manismu mengendap di cangkir kopiku. Tidak ada kemungkinan yang bisa kutakar dari kenangan. Hari berlalu sebagai kesibukan yang menyublim bersama udara untuk menyatu bersama namamu yang masih kuhirup di antara bianglala masa lalu. Berputar namun tak bergerak. Kau masih menjadi poros dari setiap langkahku yang mulai terbiasa menempuh perjalanan tanpa haluan. Sampai di suatu senja aku teringat seplastik es buah yang diikat karet merah muda sebagai menu buka puasa, dengan cinta yang kita nikmati dari sedotan yang sama.
Kopi malam ini, pahit yang selalu menemani.
Kubiarkan diriku memaku di hadapan jendela, menatap pola kopi yang tertinggal di bibir gelas, sembari menasbihkan tanya dalam pilu. 
Apa kabar, kamu? 

Minggu, 30 April 2017

Transit

Bila kau sedang dekat dengan seseorang, menjadi yang pertama dikabari saat dia sedang ada masalah, menjadi saksi berbagai prestasi yang tak henti dia ceritakan, atau menjadi kawan penghabis waktu dari senja hingga ufuk rindu, maka ketahuilah bahwa hatimu sedang berada dalam bahaya. Lewat tulisan ini aku hadir bukan untuk menyelamatkanmu, melainkan membawa kesadaranmu menyelami luka lebih dalam. Sebab kedekatan sering kali mematikan nalar, membius lewat kenyamanan, membunuh lewat pujian. Ketahuilah, sekali pun dia tak pernah menginginkanmu. Dia hanya benci sendiri, keangkuhannya butuh ditemani, dan hatinya butuh disanjung atas berbagai kisah perih yang pernah dia lewati.
Senja menjemput malam, hati menjemput kelam.
Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan?

Kamis, 06 April 2017

Kuliah Akan Berakhir, Kenangan Tetap Terukir

Bila kau sedang berteduh di suatu tempat dengan sesekali mengunggah instastories atas bahagia yang selalu kau pamerkan, sampaikan salamku kepada seseorang di sebelahmu yang selalu kau banggakan. Malam ini gerimis sedang merintikkan rindu di ingatanku, menuju waktu-waktu selepas Magrib saat aku masih rutin menjemputmu di depan gerbang, menyalami bapak kostan, menunggu kau keluar kamar, lalu kita berdua melaju di jalanan sembari berdebat menu apa yang mau kita makan. Pertanyaanku masih sama, apa aku akan kau kenang sebagai kisah indah semasa kuliah atau hanya sekedar pengisi sepi karena yang kau tunggu tidak pernah ada waktu?

Gerbang kostan, saksi tunggu juga temu dalam rindu.

Sabtu, 18 Maret 2017

Bersatulah Kaum Patah Hati

Kepada yang lemah raganya juga remuk hatinya..

Mungkin sekarang kau sedang berdiam di kostan sembari menatap tugas dan laporan yang berjam-jam kau biarkan menumpuk tanpa ada niat mengerjakan. Mungkin juga kau sedang keluar rumah sekedar mencari udara segar untuk mengisi rongga hatimu yang lama berdebu. Atau mungkin saja kau malah sedang sibuk mengurai perintah bos demi gaji per bulan yang seringnya habis tanpa bisa kaujelaskan. Apapun yang sedang kau lakukan, berusahalah untuk menjaga konsentrasi, sebab sekali saja kau lengah dan memutuskan membuka sosial media, hancurlah kau digilas kenyataan dari masa-masa terlewatkan.

Satu meja berjuta luka. Dipotret oleh: @lukmanmuh 

Sabtu, 04 Maret 2017

Seharusnya Kita Bertemu di Stasiun Tugu Sore Itu

Atas nama hati yang dengan mudahnya kau curi sejak pertama kali pesanmu masuk di akun Instagram-ku, aku masih bisa melihat namamu berlarian di tangkai penasaran. Lebih lekat dari sekedar pertemuan, bibirku ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Terutama hebatnya kau melambungkan langit di atap duka dan menjadikannya hujan tanpa melewati mendung yang seharusnya ada. Bila pematah hati adalah sebuah pekerjaan, aku adalah deadline yang paling mudah kau selesaikan. Dan kau resmi menjadi pematah hati paling profesional.

Ketiadaan di tempat yang kau janjikan.

Kamis, 23 Februari 2017

Ethyphenol Floem

Kalau saja waktu itu namaku tidak tercantum dalam daftar hadir pesta perayaan tukar cincinmu, mungkin saat ini aku masih berjuang untuk menyelamatkan hidupmu dari status lajang. Sayangnya, berkali-kali aku mengusap mata dan melipat-lipat undangan, pernikahanmu tetap dilaksanakan. Mau tidak mau aku harus menerima kenyataan bahwa ketulusan bisa kalah oleh kemampuan finansial, rasa cinta bisa takluk oleh kesempatan dan kematangan usia, setidaknya saat itu kenyataan berkata demikian. Ya, mau bagaimana lagi. Aku bukan Ko-Ching Teng yang dengan gagah berani datang ke pernikahan Shen Cia-Yi lalu mencium mempelai pria agar bisa mencium perempuan idaman. Ciuman yang membuat hening seisi ruangan. Ciuman yang menginspirasi untuk berbuat hal yang sama bila suatu hari orang yang dicinta tidak menikah dengan dirinya. 

You Are the Apple of My Eye (2011) - Kisah cinta Ko-Ching Teng dan Shen Cia-Yi, film idola kaum patah hati.
Sedih.