Selasa, 09 Februari 2016

Oryza Aritmetika

Sembilu di Februari adalah penyatuan antara kesendirian, engkau, dan masa lampau. Ditemani gerimis kali ini aku hanya ingin menyampaikan deretan permintaan maaf, kepadamu, juga masa lalu. Terkait beberapa hal yang mungkin membuatmu sedih atau berbagai kisah yang harus dilewati dengan menelan perih. Bahwa pada akhirnya kita harus menerima dan melangkah kembali, menuju hidup yang melipatkan bahagia berulang kali.

"Akhir Sebuah Era" | Pensil warna di atas kertas | Dibuat untuk ilustrasi buku
Percayalah, aku tetap setia disini..


Yang pertama aku meminta maaf kepadamu, teman-teman pembaca tulisanku di blog ini. Aku baru punya waktu, maksudku, aku yang terlalu malas dan payah mengunggah kisah baru bisa menambah postingan disini. Karena aku selalu percaya kesalahan yang tak diakui hanya membuat manusia sibuk beralasan, maka biar rasa percaya menuju hatimu untuk hinggap dan menitipkan pesan. Bahwa aku sungguh merindukanmu, tanpa jeda dihujam waktu, kepada hatimu aku selalu rela menunggu. Maaf, aku baru bisa menjawab kegaduhan perasaanmu.

Percayalah, aku tetap setia disini..

Kemudian aku meminta maaf kepadamu, penikmat kata paling setia sejak blog ini bermula. Aku harus menghapus beberapa tulisanku yang pernah mengisi haru di hari lalu, dasar utamanya adalah mereka akan dipindahpeluk ke buku pertamaku. Jadi, saat kau merindukannya kau bisa lebih mudah mengecupnya. Bila segalanya lancar, bulan ini buku itu bisa kau dapatkan di toko buku. Selain beberapa tulisanku yang pernah dimuat disini, aku juga menambah beberapa tulisan tentang perasaan hati. Semoga kau menyukainya nanti.

Percayalah, aku tetap setia disini..

Lalu, aku meminta maaf kepadamu, pengisi rasa di linimasa. Aku sering begitu angkuh membiarkan mention di Twitter, komentar di Instagram, sapaan di blog bahkan. Sungguh sebenar-benarnya aku membaca itu semua, namun waktuku teriris hal lain sehingga kadang aku tak bisa membalasnya. Bukan berarti kau tak penting, namun kesoksibukanku ini perlu waktu lebih agar tak jadi genting. Aku mohon, mengertilah. Maaf sekali lagi, karena setelah ini pun aku tak bisa menjanjikan balas di setiap apa yang aku bagikan di dunia maya, namun aku akan lebih berusaha melayani setiap tanya darimu walau terbatas waktu. Sekarang begini saja, sebagai gantinya, saat suatu hari kau temukanku dimanapun itu, tegurlah diriku dan mari ngopi sembari membicarakan berbagai kisah hati. Lebih menyenangkan bukan? Mantap, mari menikmati pertemuan.

Percayalah, aku tetap setia disini..

Ah, iya! Aku juga meminta maaf kepada masa lalu bila nantinya kisahku bukan lagi tentang kamu. Kau telah bahagia dengan hidupmu, aku pun ingin seperti itu. Semua tentangmu telah aku rangkum dalam buku pertamaku, dimana itu adalah pertanda hatiku harus melangkah ke peraduan baru. Sehingga nantinya saat bertemu, kita bisa saling menertawakan kisah kita dahulu. Ah, aku menanti hari itu. Saat kau menjabat tangan kekasihku, pengisi hatiku, pengganti kedudukanmu di setiap karyaku.

Dan terakhir, izinkan aku meminta maaf kepadamu, perempuan yang akhirnya bersemayam di hatiku. Maaf bila perangaiku kelak tak membuatmu nyaman. Maaf saat kau membutuhkan pelukan aku masih sibuk dengan keentahan. Maaf atas air mata yang harus mengalir untuk menghentikan kekacauanku, atas kecemasan pada jarak yang menebalkan kerinduan, atas aku yang tak mampu lagi menghadiahkanmu berbagai macam kejutan. Maaf bila semakin menua aku semakin tak romantis. Namun tetaplah mencintaiku seperti awal kita bertemu, sebab aku akan tetap begitu padamu. Karena setelah ucap janji itu, di hidupku hanya berhias namamu, segala yang aku lakukan adalah tentangmu. Hanya kamu, milikku, dimana bahagiamu adalah tanggung jawabku.
Walau aku belum tahu siapa perempuan itu.

Tetapi, saat engkau aku temukan nanti.
Percayalah, aku tetap setia disini..


wirasetianagara@gmail.com

29 komentar:

  1. 'Karena setelah ucap janji itu, di hidupku hanya berhias namamu, segala yang aku lakukan adalah tentangmu. Hanya kamu, milikku, dimana bahagiamu adalah tanggung jawabku'. Asli ngena banget :'v

    BalasHapus
  2. Mas wira tanggal brpa buku pertamany rilis ?

    BalasHapus
  3. Dan..
    Percayalah, aku tetap setia disini..
    menunggu karyamu.. sembari meneguk kopi
    tertawa hingga tak sadar masa lalu tlah terkunci...

    BalasHapus
  4. percayalah, aku tetap setia di sini..
    meski kau biarkan mention, komentar, dan sapaanku berlalu begitu saja (^-^)
    mungkin nanti, ketika kau ke tempatku, lagi. saat itu, aku akan berani menegurmu..

    BalasHapus
  5. Arti dari judul itu apa bang?

    BalasHapus
  6. Percayalah... Apapun itu, kau salah satu orang yang ku kagumi. Lewat bait-bait mu yang mengalirkan cinta��Tetaplah seperti itu mas, karyamu selalu ku suka��

    BalasHapus
  7. Ah, aku menanti hari itu. Saat kau menjabat tangan kekasihku, pengisi hatiku, pengganti kedudukanmu di setiap karyaku.

    BalasHapus
  8. Ah, aku menanti hari itu. Saat kau menjabat tangan kekasihku, pengisi hatiku, pengganti kedudukanmu di setiap karyaku.

    BalasHapus
  9. Mas wir kapan bukunya terbit

    BalasHapus
  10. Duuh,nunggu bukunya banget bang

    BalasHapus
  11. Gimana cra nge sharenya brada?

    BalasHapus
  12. Yey budak sajak buat buku.. tanggal brapa buku'y terbit bang?

    BalasHapus
  13. komen nya pada puitis dah 'laksana pujangga di terpa derita'

    BalasHapus
  14. Percayalah, Kami tetap setia di sini..
    walaupun kami seperti orang gila, yang begitu mengenalmu hanya melalui nama, dan kau yang bahkan tak pernah tau kami mengenalmu seperti apa. semoga kau tertawa membaca semua koment ini,dan harapan besar kami adalah, semoga tawa itu melepaskanmu dari jeratan kisah yang melukaimu selama ini.
    terimaksih untuk membaca semua ocehan ini.

    BalasHapus
  15. Penasaran banget dengan bukunya itu..

    BalasHapus
  16. halahh.. bukunya sampe' sni kgak yaa

    BalasHapus
  17. sekian banyak kata yang membuat mata yang membacanya mengucap 'indah' :))

    BalasHapus
  18. Percayalah,aku tetap setia di sini.
    Karena aku juga selalu terbiasa menunggu. Kadang ketidakpastian yang membuatku bertahan...

    BalasHapus
  19. Sebuah ungkapan yang halus dalam kata dan kalimat yang abstrak tak tersusuan, seperti itulah diri mu dulu dan sekarang, selalu bersembunyi di balik huruf-huruf yang ku tuliskan, semakin cepat aku menulis semakin nampak diri mu di balik tiap huruf, tapi ketika kalimat ku menemukan ujung mengapa diri mu kembali ke huruf awal aku menyentuhkan pena pada tulisan ku, kau kembali seakan tak pernah menengok aku yang kau begitu cepat menulis mu karena ingin melihat kenampakan wajah mu.

    BalasHapus