Senin, 15 September 2014

Mannequin Glutamat

Seperti biasanya, aku menghabiskan malam dengan duduk di bangku tua melihat jejak yang riuh menapak bahagia. Senyum nan sumringah, syal yang terlingkar lebih kencang, jaket dan sweater yang warnanya memancar lebih terang, dan kaos tangan bersiap menjabat kerinduan, berlalu-lalang melewatiku dan bermuara pada setiap pertemuan penuh haru. Diawali dengan teriakan dan sedikit loncatan kegirangan, mereka saling bersua, mengalamatkan rindu yang telah disiapkan berjam-jam lalu di depan meja rias. Tanpa ragu pelukan pun terlepas diikuti debat kecil mengenai tempat terbaik untuk bersaksi, menjadi persinggahan terhebat untuk mengisi perut dan menumpahkan cinta dari hati.
"Mirroring Suffering" | Drawing Pen dan Pensil Warna di Atas Kertas
Pergi, membuat jalanan kembali sepi..

Aku hanya tertegun memandang kisah mereka yang tak pernah bisa aku miliki. Dari celah gorden toko aku mengintip, mengagumi cinta yang hilir mudik. Jangankan bergerak, udara pun tiada guna berdekatan denganku. Beruntung kali ini pakaian yang kukenakan lebih mahal dari biasanya, juga tanpa adanya tempelan harga. Poseku masih sama, angkuh menantang dengan tangan kanan menjuntai dan tangan kiriku menyentuh pinggang. Bergaya di balik kaca, kesedihan yang tertutup sempurna.

Sederhana saja, aku ingin melihat dunia lebih luas. Bercerita tentang lelahnya seharian, menjamah cangkir dengan bibirku yang kelu menahan senyum palsu, atau menyentuh pipi yang selalu terlihat lembut saat mereka menanggapi manja pasangannya. Menghabiskan waktu di kedai-kedai rindu, hingga merasakan panik waktu begitu cepat padahal ungkapan rasa masih tersendat.

Lagi-lagi, aku tak tahu diri..

Hal terhebat yang pernah aku rasakan adalah menit-menit menjelang hari besar. Kau dan pasangan-pasanganmu itu begitu ramai menyesaki ruang. Menawar harga terbaik atas pilihan yang akan dikenakan, atau dipamerkan. Apapun itu, aku bahagia saat jemariku kau sentuh begitu lembut. Lalu kau pijit bahuku perlahan serta mengelap dahiku yang kelelahan. Abaikan semua pakaian yang membalut ragaku, ini hanya tentang aku dan hatiku.

Musim kian berganti, kau berubah kian dewasa. Dari celah gorden toko aku mengintip, mengagumi cinta yang hilir mudik. Jangankan bergerak, udara pun tiada guna berdekatan denganku. Sial kali ini tiada pakaian yang kukenakan, hanya plastik bening berdebu menyelimuti tubuhku. Poseku masih sama, angkuh menantang dengan tangan kanan menjuntai dan tangan kiriku menyentuh pinggang. Bergaya di balik kaca, kesedihan yang berlipat lebih tebal dari biasanya.

Renta meluruh waktu..

Bersua tanpa bicara, mengedarkan rindu..

Tiada lagi rasa iri setiap malam minggu, tiada lagi parade pelukan gratis dari kau pasangan-pasanganmu itu. Toko itu membeli mannequin baru yang dirasa lebih modern, yang posenya lebih sopan, yang mungkin juga tak banyak mengeluh sepertiku. Aku cemburu pada setiap pergantian namun aku juga tak bisa menuntut kesetiaan. Karena aku lebih baik diam, memendam semua luka ini sendiri agar tak ada yang ikut terlukai. Aku harus tahu diri, aku cuma pajangan yang tercipta untuk menemani, agar toko tak lagi sepi, agar baju dan celana baru itu punya teman untuk berbagi. Hingga muncul kebosanan, dan sesak hadir dalam ketidakterimaan.

Pergi, lagi dan lagi..

Kau memilih pergi, seraya berkata “Jangan hubungi aku lagi”..

Seperti biasanya, aku menghabiskan malam dengan duduk di bangku tua tepat di depan toko baju yang kita sering tertawakan bersama dahulu. Bahwa bisa-bisanya ada boneka yang begitu betah mengenakan baju yang mungkin tak disukainya, dan hanya menjadi saksi kebahagiaan berjuta pasangan yang lewat di depannya. Diikuti sumpah serapah tanpa belas kasihan pada mannequin di balik kaca, kita tertawa pada nasibnya yang terlihat begitu tersiksa.

Bedanya; Boneka itu yang kini tertawa..


wirasetianagara@gmail.com

7 komentar: