Jumat, 15 Desember 2017

Kencan

Kau masih tersenyum lembut di depanku memasang tatap andalan yang selalu membuatku kaku. Baru saja kau bercerita tentang kemacetan yang disertai teriakan lafal suci yang sering kau dengar di Masjid menjelang Sholat Magrib dan kini bisa mudah didengar setiap hari di jalan raya. Tuhan terasa lebih dekat dari biasanya, mungkin benar akan kiamat atau sebentar lagi hidup kita akan tamat. Aku hanya menelan ludah dan mulai mengingat kapan terakhir kali menyentuhkan jidat ke ujung sajadah.

Lampion. Nyala warna rapi yang menaungi kencan kami.
Astagfirullah...

Sabtu, 10 Juni 2017

Takjil

Sudah separuh bulan Ramadhan berlalu dan belum kutemui wajah manismu mengendap di cangkir kopiku. Tidak ada kemungkinan yang bisa kutakar dari kenangan. Hari berlalu sebagai kesibukan yang menyublim bersama udara untuk menyatu bersama namamu yang masih kuhirup di antara bianglala masa lalu. Berputar namun tak bergerak. Kau masih menjadi poros dari setiap langkahku yang mulai terbiasa menempuh perjalanan tanpa haluan. Sampai di suatu senja aku teringat seplastik es buah yang diikat karet merah muda sebagai menu buka puasa, dengan cinta yang kita nikmati dari sedotan yang sama.
Kopi malam ini, pahit yang selalu menemani.
Kubiarkan diriku memaku di hadapan jendela, menatap pola kopi yang tertinggal di bibir gelas, sembari menasbihkan tanya dalam pilu. 
Apa kabar, kamu? 

Minggu, 30 April 2017

Transit

Bila kau sedang dekat dengan seseorang, menjadi yang pertama dikabari saat dia sedang ada masalah, menjadi saksi berbagai prestasi yang tak henti dia ceritakan, atau menjadi kawan penghabis waktu dari senja hingga ufuk rindu, maka ketahuilah bahwa hatimu sedang berada dalam bahaya. Lewat tulisan ini aku hadir bukan untuk menyelamatkanmu, melainkan membawa kesadaranmu menyelami luka lebih dalam. Sebab kedekatan sering kali mematikan nalar, membius lewat kenyamanan, membunuh lewat pujian. Ketahuilah, sekali pun dia tak pernah menginginkanmu. Dia hanya benci sendiri, keangkuhannya butuh ditemani, dan hatinya butuh disanjung atas berbagai kisah perih yang pernah dia lewati.
Senja menjemput malam, hati menjemput kelam.
Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan?